Selasa, 09 Januari 2018

Elemen, Karakteristik dan Model Sistem Informasi Psikologi

A.    Elemen Sistem
1.      Tujuan
Dalam sebuah sistem pasti memiliki tujuan, tujuan ini yang akan menjadi motivasi dalam mengarah sebuah sistem yang akan dibangun.
2.      Mekanisme Pengendalian
Diterapkan menggunakan feedback / umpan balik sebagai pengendalinya baik itu masukan atau proses dalam sistem.
3.      Masukan atau Input
Apa yang akan masuk ke dalam sistem, selanjutnya menjadi bahan yang diproses. Masukan dapat berupa hal-hal yang tampak secara fisik maupun yang tidak tampak.
4.      Pengolahan atau Proses
Melakukan perubahan atau transformasi dari masukan menjadi keluaran yang berguna dan lebih bernilai merupakan bagian dari proses.
5.      Keluaran atau Ouput
Hasil akhir dari pemrosesan yang terjadi, bisa berupa suatu informasi, saran, cetakan laporan dan sebagainya.
6.      Batas atau Boundary
Batas sistem adalah pemisah antara sistem dan daerah di luar sistem atau lingkungan. Batas sistem menentukan konfigurasi atau kemampuan sistem.
7.      Umpan Balik atau Feedback
Mekanisme pengendalian diwujudkan dengan menggunakan umpan balik, yang digunakan untuk mengendalikan baik masukan maupun proses, tujuannya adalah untuk mengatur agar sistem berjalan sesuai tujuan.



8.      Lingkungan
Segala sesuatu yang berada di luar sistem adalah lingkungan. Lingkungan bisa berpengaruh terhadap operasi sistem dalam arti bisa merugikan maupun menguntungkan dari sistem itu sendiri. Untuk lingkungan yang merugikan tentu saja harus ditahan dan dikendalikan supaya tidak mengganggu kelangsungan operasi sistem, sedangkan yang menguntungkan tetap harus terus dijaga, karena akan memacu terhadap kelangsungan sistem.

B.     Karakteristik Sistem
1.      Komponen
Sistem terdiri dari beberapa komponen yang saling bekerja sama untuk membentuk satu kesatuan. Komponen sistem terdiri dari komponen yang berupa sub-sistem atau bagian-bagian dari sistem.
2.      Boundary
Boundary dapat disebut juga daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem yang lain atau dengan lingkungan luarnya. Penggambaran dari suatu elemen atau unsur mana yang termasuk dalam sistem dan mana yang di luar sistem.
3.      Lingkungan Luar Sistem atau Environtment
Dapat dikatakan sebagai sesuatu hal yang diluar batas dari sistem yang mempengaruhi operasi sistem. Lingkungan menyediakan asumsi, kendala dan input terhadap suatu sistem. Lingkungan dapat bersifat menguntungkan yang harus tetap dijaga dan yang merugikan harus dikendalikan agar tidak mengganggu kelangsungan sistem.
4.      Penghubung Sistem atau Interface
Media penghubung antara satu sub-sistem dengan sub-sistem lainnya, juga lingkungan satu dan lingkungan lain bertemu. Melalui penghubung ini memungkinkan sumber-sumber daya mengalir dari sub-sistem ke sub-sistem lain. Output dari sub-sistem akan menjadi input untuk sub-sistem lain melalui penghubung.
5.      Input
Sumber daya (data, bahan baku, peralatan atau energi) dari lingkungan yang dikonsumsi dan dimanipulasi oleh suatu sistem. Energi yang dimasukkan ke dalam sistem, dapat berupa perawatan (maintenance input) atau masukan sinyal (signal input). Maintenance input adalah energi yang dimasukan agar sistem dapat beroperasi, sementara signal input adalah energi yang diproses untuk didapatkan keluaran.
6.      Output
Hasil akhir atau bisa disebut juga sebagai produk hasil, bisa berupa informasi, laporan, dokumen, tampilan layer computer, barang jadi, yang disediakan untuk lingkungan sistem oleh kegiatan dalam suatu sistem.
7.      Pengolah Sistem
Suatu sistem menjadi pengolah yang akan merubah input menjadi output. Sistem produksi akan mengolah bahan baku menjadi bahan jadi.
8.      Penyimpanan atau Storage
Merupakan tempat yang digunakan untuk penyimpanan sementara dan tetap dari informasi, energi, bahan baku, dan sebagainya.

C.     Model Sistem Informasi Psikologi
Kepribadian biasanya diukur menggunakan kuisioner penilaian diri. Kuesioner ini adalah tes yang secara langsung menanyakan aspek-aspek kepribadian seseorang, mengukur kemampuan dalam menghadapi tekanan secara konsisten dan obyektif, cara menghadapi orang lain, dan sikap perilaku seseorang secara umum. Tes tersebut dengan tes kepribadian atau personality test (Parkinson, 2004)
PAPITM (Personality and Preference Inventory) adalah “personality assessment” (alat tes penilaian kepribadian) terkemuka yang digunakan oleh para profesional HR (Human Resource) dan manajer terkait untuk mengevaluasi perilaku dan gaya kerja individu pada semua tingkatan (Cubiks, 2012)
Personality and Preference Inventory (PAPI) dibuat oleh Guru Besar Psikologi Industri dari Massachusetts, Amerika, yang bernama Dr. Max Martin Kostick pada awal tahun 1960-an. Versi Swedia lebih dulu diperkenalkan di awal 1980-an dan versi ini diperkenalkan pada tahun 1997 dengan versi ipsative (PAPI-I) dan normative (PAPI-N). Versi ipsative, PAPI-I, dirancang untuk digunakan untuk pengembangan pribadi, sedangkan normative versi, PAPI-N, yang dimaksudkan untuk digunakan untuk perbandingan dan seleksi. Dasar pemikiran untuk desain dan formulasi PAPI didasarkan pada penelitian dan teori kepribadian “needs-press” oleh Murray (1938) (Simu, 2009).
Berdasarkan pengertian tes kepribadian dan tes papikostik menurut para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa Papikostik merupakan tes untuk mengevaluasi perilaku dan gaya kerja individu pada semua tingkatan yang termasuk ke dalam tes kepribadian dimana tes yang secara langsung menanyakan aspek-aspek kepribadian seseorang, mengukur kemampuan dalam menghadapi tekanan secara konsisten dan obyektif, cara menghadapi orang lain, dan sikap perilaku seseorang dalam perihal gaya kerja individu.



Daftar Pustaka
Parkinson, Mark. 2004, Panduan Sukses Menghadapi Tes Psikometri, Tiga Serangkai, Solo.
Cubiks. 2012, PAPI. [terhubung berkala]. http://www.cubiks.com/Products/PersonalityAssessments/Pages/papi.aspx [9 Februari 2012].
Simu, Kajsa. 2009,The Construction Site Manager's Impact on Risk Management Performance, LuleƄ University of Technology, LuleƄ.
http://gawokyugokhatelu.blogspot.co.id/2016/11/sistem-informasi-psikologi-sip-dan.html
https://andinigaluh99.wordpress.com/2016/11/07/karakteristik-elemen-sistem-dan-model-sistem-informasi-psikologi-manual/
https://wirautamipsi2013.wordpress.com/2016/10/30/sistem-informasi-psikologi-elemen-sistem-dan-karakteristik-sistem/

http://ulfahindahkusumaningrum.blogspot.co.id/2016/11/elemen-dan-karakteristik-sistem.html?m=1

Sabtu, 07 Oktober 2017

Sistem Informasi Psikologi

1.      Pengertian Sistem
Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi.
Sistem adalah hubungan satu unit dengan unit lainnya yang saling berhubungan satu sama lainnya dan yang tidak dapat dipisahkan serta menuju satu kesatuan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini diungkapkan oleh Gaol (2008).
Marimin, Tanjung H., dan Prabowo H (2006) berpendapat bahwa sistem adalah suatu kesatuan usaha yang terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain yang berusaha mencapai suatu tujuan dalam suatu lingkungan kompleks.
Menurut Poerwadarminta (2003) sistem adalah sekelompok bagian-bagian yang berupa alat dan lain sebagainya, yang bekerja sama untuk melaksanakan tujuan tertentu.
Berdasarkan pendapat dari beberapa para tokoh diatas, dapat disimpulkan bahwa, sistem adalah, suatu kesatuan usaha yang terdiri dari satu unit dengan unit lainnya yang bekerja sama untuk melaksanakan tujuan tertentu.

2.      Pengertian Informasi
Kata informasi berasal dari kata Perancis kuno informacion (1387) yang diambil dari bahasa Latin informationem yang berarti garis besar, konsep atau ide-ide.
Al Fatta (2007) menyampaikan bahwa informasi sebagai data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau mendatang.
Selain itu, menurut Bodnar & Hopwood (2000) informasi merupakan data yang diolah sedemikian rupa sehingga bisa dijadikan dasar dalam mengambil sebuah keputusan yang tepat dan benar.
Yang terakhir menurut Alamsyah (2005) informasi adalah data yang telah diolah dengan cara tertentu sesuai dengan bentuk yang diperlukan.
Berdasarkan pendapat dari beberapa tokoh diatas, dapat disimpulkan bahwa informasi merupakan data yang diolah sedimikian rupa menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan sesuai dengan bentuk yang diperlukan.

3.      Pengertian Psikologi
Psikologi berasal dari perkataan Yunani yaitu “psyche” yang artinya jiwa, dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologis (arti kata) psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya, maupun latar belakangnya.
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan. Hal itu dikemukakan oleh Clifford T. Morgan (dalam Sarwono, 2009)
Sedangkan Gardner Murphy (dalam Sarwono, 2009) berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya.
Yang terakhir, Dakir (1993) mengemukakan bahwa psikologi adalah suatu ilmu yang membahas tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungannya.
Berdasarkan pendapat dari beberapa tokoh diatas, dapat disimpulkan bahwa psikologi merupakan ilmu yang mempelajari respond dan tingkah laku manusia juga hewan dalam hubungannya dengan lingkungannya.

4.      Pengertian Sistem Informasi Psikologi
Suatu kesatuan usaha yang terdiri dari satu unit dengan unit lainnya yang bekerja sama untuk melaksanakan tujuan tertentu yang diolah sedimikian rupa menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan sesuai dengan kebutuhan pemeriksaan psikologis yang mempelajari respond dan tingkah laku manusia juga hewan dalam hubungannya dengan lingkungannya.




DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah, Z. (2005). Manajemen sistem informasi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Al Fatta, Hanif. (2007). Analisis dan perancangan sistem informasi untuk keunggulan bersaing perusahaan dan organisasi modern. Yogyakarta: ANDI.
Bodnar, G. H., & Hopwood, W. S. (2000). Sistem informasi akutansi, terjemahan Amir Abadi Jusuf, Rudi M. Tambunan. Jakarta : Salemba Empat.
Dakir. (1993). Dasar-dasar psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gaol, J.L. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta : PT Gramedia.
Marimin., Tanjung, H., & Prabowo, H. (2006). Sistem informasi manajemen sumber daya manusia. Jakarta: Grasindo.
Poerwadarminta, W.J.S. (2003). Kamus umum bahasa indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sarwono, S. W. (2009). Pengantar psikologi umum. Jakarta : Rajawali Pers.


Minggu, 06 November 2016

Struktur Organisasi

Pengorganisasian sebagai Manajemen Fungsi
Pengorganisasian adalah proses mengatur orang dan sumber daya lain untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan. Tujuan sebagai salah satu fungsi dasar dari manajemen adalah untuk menciptakan pembagian kerja dan kemudian mengkoordinasikan hasil untuk mencapai tujuan bersama.

Apa Struktur Organisasi?
Cara di mana berbagai bagian dari suatu organisasi yang disusun biasanya disebut sebagai struktur organisasi. Ini adalah sistem tugas, arus kerja, hubungan pelaporan, dan saluran komunikasi yang menghubungkan bersama karya individu dan kelompok yang beragam. Setiap struktur harus melakukan pekerjaan yang baik dari kedua tugas mengalokasikan melalui pembagian kerja dan menyediakan untuk koordinasi hasil kinerja. Sebuah struktur yang tidak baik dari hal-hal ini dengan baik membantu untuk menerapkan strategi organisasi.

Struktur Formal dan Struktur Informal
Pengorganisasian sebagai fungsi dari manajemen, meliputi :
a.    Organisasi Formal
Organisasi formal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang mengikatkan diri dengan suatu tujuan bersama secara sadar serta dengan hubungan kerja yang rasional.
Contoh : Perseroan terbatas, Sekolah, Negara, dan lain sebagainya.
b.      Organisasi Informal
Organisasi informal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang telibat pada suatu aktifitas serta tujuan bersama yang tidak disadari.
Contoh : Arisan ibu-ibu sekampung, belajar bersama anak-anak sd, kemping ke gunung pangrango rame-rame dengan teman, dan lain-lain.

Salah satu bagian penting organisasi adalah pengelompokkan informal dan hubungan-hubungan pribadi yang dapat lebih berpengaruh dibanding dengan hubungan formal seperti yang ditunjukkan bagan organisasi.
Argiyris mengemukakan empat bidang utama dimana bidang organisasi formal dan informal berbeda :
a.       Organisasi Informal
Hubungan-hubungan antar pribadi. Hubungan-hubungan antar pribadi didalam organisasi formal digambarkan jelas, sedangkan dalam organisasi informal tergantung pada kebutuhan-kebutuhan mereka.
b.      Kepemimpinan.
Para pemimpin dirancang dan ditentukan dalam formal serta muncul dan dipilih dalam informal.
c.       Pengendalian perilaku.
Organisasi formal mengendalikan perilaku karyawan melalui penghargaan dan hukuman, sedangkan kelompok informal mengendalikan para anggota dengan pemenuhan kebutuhan.
d.      Ketergantungan.
Karena kapasitas pemimpin formal terletak pada penghargaan dan hukuman, bawahan-bawahan lebih tergantung dari pada para anggota suatu kelompok informal.

Struktur Fungsional
Dalam struktur fungsional, orang dengan keterampilan yang sama dan melakukan tugas-tugas serupa dikelompokkan bersama menjadi unit kerja formal.

Keuntungan Struktur Fungsional
Titik kunci dari struktur fungsional adalah untuk mengumpulkan orang-orang dalam keahlian yang sama dan membantu mereka bekerja sama dengan baik. Jika setiap fungsi melakukan tugasnya dengan baik, harapan adalah bahwa organisasi secara keseluruhan akan beroperasi dengan sukses. Struktur ini bekerja dengan baik untuk organisasi berurusan dengan hanya satu atau beberapa produk atau jasa. Mereka juga cenderung bekerja terbaik dalam lingkungan yang relatif stabil di mana masalah dapat diprediksi dan tuntutan untuk perubahan dan inovasi terbatas.
Kekurangan Struktur Fungsional
Masalah umum dari struktur fungsional termasuk kesulitan dalam penentuan tanggung jawab untuk hal-hal seperti biaya penahanan, produk atau jasa yang berkualitas, dan inovasi. Ketika masing-masing departemen atau fungsi berfokus hanya pada kekhawatiran tersendiri, "gambaran besar" masalah dengan mudah bisa diabaikan. Hal ini berkaitan dengan sesuatu yang disebut cerobong fungsional atau silo fungsional masalah-kurangnya komunikasi, koordinasi, dan pemecahan masalah lintas fungsi. Hal ini terjadi karena fungsi menjadi formal tidak hanya pada bagan organisasi, tetapi juga dalam pikiran-set orang. Rasa tujuan yang sama akan hilang dan egois, sudut pandang yang sempit menjadi prominent.

Struktur Divisional
Struktur Divisional yang umum dalam organisasi yang kompleks dengan operasi yang beragam yang memperluas di banyak produk, wilayah, pelanggan, dan kerja processes. Idenya adalah untuk menggunakan fokus divisi untuk mengatasi kelemahan dari struktur fungsional, seperti masalah cerobong asap fungsional.

Keuntungan struktur divisional
keuntungan dari struktur divisi meliputi:
• fleksibilitas lebih dalam merespon perubahan lingkungan
• Peningkatan koordinasi lintas departemen fungsional
• poin Batal tanggung jawab untuk produk atau layanan pengiriman
• Keahlian berfokus pada pelanggan tertentu, produk, dan daerah dalam
• Besar kemudahan  mengubah ukuran dengan menambahkan atau menghapus divisi
Struktur divisi memiliki potensi merugikan. Mereka dapat mengurangi skala ekonomi dan peningkatan biaya melalui duplikasi sumber daya dan upaya di seluruh divisi. Mereka juga dapat membuat persaingan tidak sehat sebagai divisi bersaing untuk sumber daya dan perhatian manajemen puncak, dan karena mereka menekankan kebutuhan divisi atas tujuan organisasi secara keseluruhan.


Selasa, 31 Mei 2016

ADHD, Sebab, Ciri-Ciri, dan Penanganannya.



Hallo Readers ^_^ Kembali Lagi Saya memposting tentang hal yang berbau psikologi nih hehe. kali ini saya akan membahas soal ADHD nih, yang butuh informasi soal ADHD ini yuk di intip infonya. Semoga infonya membantu ya! Selamat Membaca~



Apa Sih ADHD itu?
ADHD merupakan singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder, yaitu sebuah gangguan pada perkembangan otak yang menyebabkan penderitanya menjadi hiperaktif, impulsif, serta susah memusatkan perhatian. Kondisi ini dulunya sikenal dengan ADD atau Attention Deficit Disorder.
ADHD adalah kondisi yang bisa terdapat pada anak-anak, remaja bahkan pada orang dewasa. Namun gejalanya biasanya mulai berkembang pada masa kanak-kanak dan berlanjut hingga dewasa. Diperkirakan terdapat 3-5 % anak-anak atau anak usia sekolah yang mengalami kondisi ini. Tanpa penanganan yang tepat, ADHD dapat menimbulkan konsekuensi yang serius seperti mal-prestasi (under-achievement), kegagalan di sekolah atau pekerjaan, susah menjalin hubungan atau interaksi sosial, rasa tidak percaya diri yang parah, dan juga depresi kronis.

Apa Saja Gejala ADHD?
Gejala atau pertanda ADHD bisa berbeda bagi setiap orang. Gejalanya biasanya mulai tampak saat masa anak-anak. Berikut ini adalah tiga gejala utama ADHD yang umum pada anak-anak:

Hiperaktif
Tampak seperti kelebihan energi, selalu aktif dan tidak bisa diam. Tanda-tandanya  yang biasanya tampak adalah:
  • Tidak bisa bermain dengan tenang
  • Susah berdiam diri, menggeliat, gelisah, dan sering berdiri kembali ketika duduk
  • Selalu bergerak, seperti berlari atau memanjat pada sesuatu
  • Tidak bisa duduk dengan tenang 

Inattention atau bermasalah pada perhatian
Berupa gangguan atau kesulitan untuk memperhatikan sesuatu. Gejala yang biasanya tampak antara lain:
  • Sangat susah untuk memusatkan perhatian
  • Tampak tidak mendengarkan ketika orang lain berbicara kepadanya
  • Perhatiannya sangat mudah teralihkan
  • Sering membuat kesalahan akibat kurang berhati-hati atau karena kurang memperhatikan
  • Susah mengikuti arahan atau menyelesaikan tugas
  • Sering melupakan atau menghilangkan sesuatu
  • Memiliki kecenderungan untuk mengingau saat tidur

Impulsif
Penderita ADHD biasanya memiliki sifat impulsif atau bertindak tanpa berpikir  (spontan). Gejala yang dapat dikenali misalnya:
  • Kesulitan untuk menunggu giliran
  • Menjawab pertanyaan sebelum pertanyaan selesai atau sebelum diberi kesempatan
  • Sering menginterupsi orang lain
  • Bertindak impulsif tanpa memikirkan konsekuensinya, seperti berlari di tengah acara formal, mengejar sesuatu yang berbahaya, dsb.
Selain ketiga gejala di atas, terdapat juga beberapa gejala lain yang bisa terjadi pada penderita ADHD, antara lain:
  • Menunjukkan sikap menentang atau melanggar peraturan
  • Susah untuk bersosialisasi dengan orang lain
  • Kurangnya rasa percaya diri
  • Kemampuan mengorganisasi yang buruk
  • Cepat bosan
  • Gelisah
  • Sering terburu-buru dalam mengambil keputusan
Beberapa Penyebab ADHD
Penyebab pasti ADHD belum diketahui secara pasti, namun para peneliti memusatkan objek penelitiannya pada kinerja dan perkembangan otak. Selain itu, terdapat tiga faktor yang dianggap mempengaruhi kondisi ADHD, yaitu:
  • Faktor genetik/keturunan
    Sebagian besar penderita ADHD mendapatkan kondisi ini dari orang tuanya. ADHD memiliki kecenderungan besar terjadi pada keluarga/keturunan.
  • Ketidakseimbangan kimia
    Para ahli meyakini bahwa ketidakseimbangan kimiawi pada otak (neurotransmitter) merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan gejala ADHD.
  • Kinerja otak
    Pada anak yang menderita ADHD, didapati bahwa area otak yang mengontrol perhatian tampak tidak terlalu aktif, dibandingkan dengan anak-anak lainnya yang tidak menderita ADHD.
Bagaimana Pengananannya?
Walaupun kondisi ini tidak bisa disembuhkan, terdapat beberapa tindakan atau penanganan bagi penderita ADHD. Pengobatan di sini berarti tindakan atau strategi untuk membantu mengontrol gejala-gejala ADHD. Tujuannya adalah membantu penderitanya meningkatkan kemampuan sosial, meningkatkan kemampuan dalam belajar/bekerja, meningkatkan rasa percaya diri anak, dan menjaga penderitanya dari tingkah laku yang dapat membahayakan diri sendiri.
Pengobatan bagi penderita ADHD bisa berupa obat-obatan ataupun terapi. Obat-obatan yang sering diberikan oleh dokter biasanya berupa stimulan, yang digunakan untuk membantu mengontrol sikap hiperaktif dan impulsif pada anak, serta membantu meningkatkan fokus atau perhatian.
Penanganan berupa terapi (psikoterapi) juga umum diberikan pada penderita ADHD. Terapi yang diberikan bisa berupa pelatihan kemampuan sosial, modifikasi tingkah laku (behavior), dan juga terapi kognitif. Orang tua dan keluarga juga biasanya akan diberikan pelatihan berupa pengenalan terhadap ADHD, cara menghadapi gejala ADHD pada anak, pendekatan-pendekatan yang digunakan, ataupun berupa support bagi orang tua yang memiliki anak penderita ADHD.